Kamis, 16 Desember 2010

GEREJA PPIK , BAGAIMANA MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN ? ( oleh Markus Kanoh )

Pengantar

Beberapa waktu yang lalu sdr. Ir. Sudarmo Bahari, mengirim SMS juga melalui pesan FB kepada saya dengan permintaan agar saya ikut membuat sebuah tulisan tentang pengalaman selama pelayanan di GPPIK. Terus terang saya tidak punya banyak pengalaman ataupun dokumen tertulis apapun untuk memenuhi permintaan itu, sehingga untuk bahan tulisan ini sangat bergantung pada ingatan atas beberapa peristiwa yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu. Untuk itu saya harus memaksa diri memutar ulang rekaman kejadian – kejadian yang pernah saya lihat dan alami dimasa itu. Mudah-mudahan bermanfaat.

Gereja PPIK ada- sebagai buah tangan dan doa misi RBMU ( Region Beyond Missionary Union ). Para misionaries yang berasal dari negara Canada, Amerika Serikat dan Australia dan mungkin juga ada dari negara lain, telah bekerja selama bertahun-tahun, meninggalkan negerinya yang kaya raya untuk hidup dan tinggal di Kalimantan Barat yang saat itu ( tahun 1950- an ) masih dalam keadaan yang serba susah. Kesulitan terbesar saat itu adalah buruknya transportasi dan komunikasi, jalan raya rusak parah, hubungan telpon,radio komunikasi belum ada. Demikian pula dengan kondisi sosial - ekonomi rakyat Indonesia pada umumnya dan Kalimantan Barat khususnya, miskin dan masih terbelakang. Kondisi itu tentulah menjadi tantangan tersendiri bagi mereka yang terbiasa hidup dilingkungan yang bersih,sehat dan berkecukupan. Belum lagi masalah kesehatan dan kebersihan lingkungan, makanan yang berbeda dengan kebiasaan mereka serta kebudayaan yang berbeda pula. Kita tidak dapat membayangkan pengorbanan dan jerih payah mereka para misionari ini pada saat pertama kali menginjakkan kakinya di pulau Kalimantan ini.
Tetapi syukur kepada Tuhan kita Yesus Kristus bahwa dengan pertolongan dan penyertaan Roh Kudus, mereka dimampukan melewati masa-masa sulit itu dan berhasil bersama-sama dengan orang-orang tua kita mendirikan Gereja Tuhan yang saat ini dikenal dengan Gereja Persekutuan Pemberitaan Injil Kristus disingkat GPPIK.

Peranan dan Tantangan
Gereja walaupun sebagai sebuah institusi agama Kristen tidak bisa lepas dari pengaruh- pengaruh lingkungannya sesuai dengan situasi dan kondisi saat itu, baik bersifat positip dan membangun maupun yang bersifat negatif dan merusak. Dengan perkataan lain mau atau tidak mau gereja akan bersentuhan dengan lingkungannya. Apalagi dalam dunia yang semakin maju ini, baik dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam keterbukaan informasi yang tidak mungkin dibendung, maka gereja harus bisa mengambil posisi yang benar agar tidak terjadi benturan yang tidak perlu tetapi sebaliknya mampu menjadi garam dan terang bagi dunia sekitarnya. Gereja harus siap menghadapi situasi itu ,antara lain melalui pengajaran yang sehat dan benar, kedisiplinan , keberanian untuk menyatakan kebenaran serta kepedulian /empati terhadap mereka yang bermasalah. Pengajaran yang benar sesuai dengan Firman Tuhan diperlukan guna menghadapi gempuran pengajaran sesat yang semakin berkembang dewasa ini. Kedisiplinan yang teguh untuk menghadapi gejala pragmatisme yang semakin mempengaruhi gereja. Berani berkata ya terhadap yang benar dan tidak terhadap yang salah harus terus dikumandangkan dalam dunia yang serba terbalik. Kepedulian terhadap mereka yang tergolong marjinal dan terjatuh dalam berbagai permasalahan sosial agar tidak merasa ditinggalkan sendirian sehingga mencari jalan keluar sendiri atau bahkan meminta bantuan kepada pihak luar. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian serius dari gereja dalam hal ini para pemimpinnya.

Sekitar tahun 60 - 70-an seingat saya, suatu pemandangan yang lazim dalam sebuah kebaktian umum digereja seseorang maju kedepan mimbar dan dengan wajah sendu dan tangis yang tertahan bersaksi mengaku didepan sidang jemaat bahwa ia telah berbuat dosa dan bersalah karena melakukan perbuatan yang bertentangan dengan Firman Tuhan dan tata gereja. Perbuatan yang biasanya dianggap sebagai pelanggaran terhadap tata gereja saat itu seperti berjudi, minum minuman keras, balenggang, penyembahan berhala, baik yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung karena tergabung dalam komunitas / kampung baik terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Pengalaman saya selama menjadi Sekretaris Umum BPP, dalam rapat-rapat atau dalam sidang umum GPPIK juga sering terdengar pertanyaan atau bahkan perdebatan yang berkaitan dengan bagaimana caranya menghadapi anggota jemaat yang terlibat dalam penyembahan berhala, bagaimana menghadapi kampung yang melaksanakan balala’ , bagaimana menyelesaikan perkawinan antara yang Kristen dan animisme, masalah anggota gereja yang ikut balenggang, bagaimana sikap jemaat terhadap pesta babalak atau sunatan dll. Saya berpandangan bahwa dimasa itu gereja memang sedang bergumul dengan masalah – masalah tersebut serta berupaya mencari jawabannya sesuai dengan Firman Tuhan dan Tata Gereja. Saya tidak tahu apakah pemandangan itu masih bisa kita temui saat ini dilingkungan GPPIK. Mungkin saja sudah tidak ada lagi karena kita semakin toleran dan longgar dengan masalah-masalah moral dan etika terkait dengan kebebasan dalam pergaulan yang semakin luas dan terbuka dengan dunia luar. Keprihatinan dan pergumulan gereja kita mungkin bukan disana lagi, tetapi dibidang lain seperti masalah bagaimana menangkal pengajaran sesat, bagaimana menjawab pertanyaan tentang doktrin,bagaimana menghadapi penyalah gunaan narkoba, kenakalan remaja, premanisme dan masalah masalah sosial lainnya.

Hal lain yang sering menimbulkan permasalahan dalam pelayanan adalah mutasi atau pemindahan pelayan atau gembala dari satu jemaat ke jemaat yang lain atau dari satu daerah pelayanan ke daerah pelayanan lain ( GPPIK dulu dibagi atas Daerah I s/d Daerah V ). Dalam setiap Sidang Umum selalu ada keputusan mutasi, baik oleh permintaan yang bersangkutan ataupun untuk mengisi kekosongan disalah satu jemaat atau pertimbangan lain lain. Dalam hal ini timbul permasalahan dalam implementasi keputusan misalnya bagaimana masalah penggajian, biaya pindah,perumahan dan sebagainya. Permasalahan ini timbul karena pemindahan atau pertukaran pelayan belum disertai dengan perencanaan yang matang, bahkan kadang-kadang usulan baru muncul disaat sidang umum sehingga keputusan diambil tanpa konsultasi yang mendalam. Akibatnya jemaat penerima tidak mengerti apa yang harus mereka lakukan dan jemaat yang ditinggalkan tidak bisa berbuat apa-apa.

Sampai dengan sekitar tahun 1970-an, anggota gereja PPIK yang mencapai tingkat pendidikan S1 sangat jarang atau boleh dikatakan belum banyak. Dapat dibayangkan bagaimana kualitas SDM warga gereja dan pemimpin gereja dikala itu. Yang bergelar sarjana teologia saya rasa belum ada. Menjadi pergumulan dan diskusi panjang yang melelahkan dalam rapat rapat Badan Pimpinan Pusat dan sidang umum, tentang bagaimana agar kualitas SDM para pelayan Gereja ( Gembala Sidang ), guru Sekolah Alkitab Berea, guru SD dan SMP bisa ditingkatkan. Caranya harus ada terobosan untuk mengirim putra/ putri terbaik gereja untuk mendapatkan pendidikan diluar pulau Kalimantan yaitu dengan mengirim calon calon hamba Tuhan kuliah diluar daerah atau di pulau jawa. Sementara itu keinginan dan cita-cita tidak sejalan dengan kemampuan keuangan gereja/organisasi. Dukungan badan missi RBMU juga tidak seperti yang diharapkan, padahal harapan terbesar ditaruh diatas pundak mereka. Yang menjadi pertanyaan saya saat itu apakah RBMU memang tidak memiliki sumber dana yang cukup untuk memberikan bantuan keuangan / bea siswa, atau kurang yakin dengan kemampuan putera daerah atau memang tidak sejalan dengan visi / misi mereka. Karena setiap kali membicarakan masalah sekolah tidak pernah tuntas dalam hal pembiayaannya. Saya rasa disisi keuangan /finacial gereja inilah menjadi tantangan tersendiri bagi setiap Ketua Umum yang terpilih dalam Sidang Umum. Pengurus BPP selalu berupaya bagaimana caranya agar gereja mampu mandiri dalam masalah keuangan. Bukan hanya untuk mendukung program program kerja, tetapi juga untuk kegiatan rutinpun mengalami kesulitan. Beberapa jemaat lokal yang dianggap memiliki potensi saat itu misalnya, gereja Anik, Ansang dan Pontianak pun belum bisa menjadi tumpuan karena merekapun harus berjuang untuk membiayai dirinya sendiri.

Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar warga gereja PPIK adalah petani/peladang yang sangat memprihatinkan kondisi ekonomi rumah tangganya. Jangankan untuk biaya sekolah bahkan untuk hidup se hari-hari pun susah. Hal ini berkaitan dengan kondisi perekonomian negara saat itu memang kurang baik ditambah lagi sarana perhubungan yang rusak. Hampir-hampir tidak ada hubungan dagang yang lancar antara desa dan kota. Harga komoditi pertanian sangat rendah tetapi sebaliknya harga barang konsumsi sandang pangan dari kota mahal, sehingga tidak berimbang. Komoditi yang dapat dijual dan menghasilkan uang satu-satunya adalah karet, sedangkan komoditi lainnya hampir-hampir tidak ada pasarnya. Kemakmuran akan sedikit terasa jika musim tengkawang tiba. Orang kampung tua muda besar kecil bisa pegang uang, bisa beli baju dan celana bahkan pasang gigi emas.tetapi itu hanya sekejap saja. Paling lama tiga bulan dan sesudah itu kembali kepada keadaan semula.
Bersyukurlah sekarang ini bahwa tingkat perekonomian dan kualitas SDM warga gereja maupun para pemimpin gereja sudah diatas rata-rata. Keperluan sandang pangan sudah terpenuhi. Memiliki kendaraan roda dua maupun roda empat bukan suatu kemewahan lagi. Gelar sarjanapun bukan suatu hal yang langka lagi. Tidak sedikit yang memegang jabatan di Instansi Pemerintahan dan juga sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Profesi sebagai Pegawai Negeri dan berkarir di swastapun sudah cukup banyak. Semuanya itu harus disyukuri sebagai sebuah karya nyata dan pembelaan Tuhan bagi Gereja PPIK.

Kalau kita menoleh kebelakang, salah satu upaya nyata para pendiri gereja PPIK adalah keberaniannya untuk mendirikan sekolah rakyat / dasar di Anik pada sekitar tahun 1950 an. Keberanian ini patut dicatat dengan tinta emas mengingat saat itu sumber daya manusia yang ada sangat terbatas atau bahkan tidak ada, namun memiliki keberanian untuk menjadi pengajar alias guru. Kepada mereka yang telah berupaya sedemikian rupa walau dalam segala keterbatasan saat itu patut diberi acungan jempol. Hasilnyapun telah dapat dinikmati saat ini, karena tanpa keberanian apa jadinya GPPIK saat ini. Sayangnya sejalan dengan perkembangan zaman yaitu dibukanya sekolah dasar inpres oleh pemerintah sekitar tahun 70-an maka sekolah dasar GPPIK turut pudar walaupun dibeberapa tempat tetap hidup. Untuk menangani masalah pendidikan ini Gereja PPIK membentuk sebuah badan yang disebut Badan Pendidikan yang selanjutnya dibentuk sebuah yayasan pendidikan. Dalam segala keterbatasan itu sejarah tidak bisa dipungkiri dan telah terukir secara khusus dalam kiprah GPPIK sebagai bagian dari pelayanannya.

Terobosan kedua adalah membuka sekolah Alkitab Berea di Ansang – Darit. Pembukaan sekolah Alkitab bukanlah hal yang mudah. Pertama masalah tenaga pengajar. Kedua sarana dan prasarana. Belum lagi pendanaannya. Dalam segala keterbatasan juga sekolah Alkitab Berea dapat survive hingga saat ini dengan tetap menunjukan eksistensinya ditengah kepungan bermacam jenis pendidikan teologia yang menawarkan kemudahan – kemudahan antara lain bea siswa dan tentunya gelar. Dalam hal ini patut diingat jasa dan pengabdian hamba Tuhan yang setia seperti Pdt. E. R. Warkentin dan Nyonya, Nn Shelly, Nn G. Lima, dll serta beberapa nama lainnya yang tidak kenal lelah terus berjuang untuk memajukan sekolah Alkitab Berea baik sebagai pengajar maupun sebagai penyandang dana. Dari hasil didikan mereka lahir beberapa pengajar seperti Pdt. Paul Nyerom dan Isteri, Pdt. Kornelius Atok, Pdt.Nyangkui, Pdt. Napi Gading,Pdt. Otto Kanoh dll ( mohon maaf tidak semua nama disebutkan ).

Berani melangkah.
Suatu hal yang saya ingat adalah semangat beberapa pendeta misi RBMU untuk membuka daerah-daerah pelayanan baru, khususnya ditempat yang sulit dijangkau dan masih tertinggal seperti Sempatung, Tengon, dan kampung-kampung di wilayah kecamatan Air Besar. Kampung – kampung itu hanya dapat dijangkau dengan jalan kaki atau perahu. Sepeda motor masih merupakan barang langka. Terus terang saya tidak mengetahui lagi bagaimana perkembangan pelayanan di daerah itu saat ini.Mudah-mudahan terus berlanjut bahkan berkembang dengan baik. Disamping itu juga diwacanakan untuk merambah ke wilayah perkotaan seperti Pontianak, Mempawah, Ngabang bahkan diluar Pulau Kalimantan.

Bermula dari keprihatinan para Ketua-ketua Daerah tentang nasib siswa – mahasiswa warga GPPIK yang sedang bersekolah di kota Pontianak. Para siswa / mahasiswa ini terpaksa tinggal menumpang dengan orang lain. Dari sini timbullah ide untuk membangun asrama siswa – mahasiswa di kota Pontianak dengan tujuan agar mereka dapat belajar dengan tenang dan sekaligus terbina kerohaniannya. Berkat perjuangan yang gigih dari Badan Pimpinan Pusat dan Pengurus Daerah serta dukungan dari badan misi RBMU maka berdirilah Asrama Siswa” – Mahasiswa GPPIK ‘ GAMALIEL ‘ yang terletak di Jalan Nurali No. I Pontianak. Dari sinilah cikal bakal kiprah Gereja PPIK di kota Pontianak sebagai ibu kota provinsi Kalimantan Barat. Sebagai pembina kerohanian siswa mahasiswa di Asrama Gamaliel beberapa nama patut diingat seperti Sdr. Peter Lehon, Sdr. Mahidin, Sdr. Sukardi , Pdt. OP Nyheim & Nyonya dll.
Begitu pula Guest House RBMU dijalan Fatimah no 7 pontianak juga sebuah monument bersejarah adanya GPPIK di pontianak. Rumah ini boleh dikatakan markas kecil bagi kaum muda/i GPPIK yang sedang belajar di kota pontianak. Berkumpulnya kaum muda disini tentunya dengan berbagai motivasi sebagai anak muda tentunya, namun satu hal yang pasti bahwa berkumpulnya kaum muda GPPIK disini merupakan satu unit persekutuan yang selalu hadir dalam membangun dan membina kerohanian kaum muda/i dengan diadakannya persekutuan dan kebaktian yang dipimpin oleh Pdt. Olav P Nyheim dan Nyonya.

Sejalan dengan kebutuhan yang semakin terasa karena bertambahnya warga gereja PPIK di kota Pontianak, baik oleh siswa – mahasiswa maupun mereka yang telah bertempat tinggal dikota pontianak karena pekerjaannya, maka diwacanakan adanya sebuah rumah ibadah yang permanen dan memenuhi syarat. Singkat kata maka berdirilah Gereja PPIK di kota Pontianak yang terletak di jalan WR Supratman. Gereja dibangun diatas tanah bekas kuburan warga tionghoa. Peresmian Gereja dilaksanakan oleh Walikota Madya Pontianak waktu itu bapak Madjid Hasan. Gembala jemaat pertama adalah Pdt. Paul Nyerom K. Namun dalam perkembangan selanjutnya sampai dengan saat ini baru ada satu jemaat tambahan yaitu jemaat di Siantan.Bandingkan dengan jemaat GKII yang relatif muncul belakangan, sampai saat ini telah berhasil mendirikan tujuh jemaat di kota Pontianak ( http.// gkii-maranatha blogspot.com ).

Bagaimana kedepan.
Sebagaimana telah disebutkan didepan bahwa gereja sebagai sebuah lembaga kerohanian kristen, tidak bisa lepas dari pengaruh dunia sekitarnya. Gereja seolah-olah dikepung oleh bermacam-macam tantangan yang memaksanya untuk terus berjaga-jaga agar tidak larut. Bagaimana jadinya jika sebuah kapal yang sedang dalam pelayaran menuju kesuatu tempat dimasuki oleh air laut dan tanpa terasa hampir tenggelam. Tantangan yang dihadapi semakin banyak dan berbagai ragamnya antara lain :

Dewasa ini banyak pengajaran yang menentang ke Kristenan dengan menggunakan Alkitab yang sama. Pengajaran yang meragukan ke Tuhanan Yesus Kristus ( lihat Ellen Kristi, Bukan Allah Tapi Tuhan, Borobudur Indonesia Publishing,2008 ), diketemukannya berbagai Injil palsu seperti Injil Thomas, Injil Yudas, Injil Barnabas, saksi jehovah,pengajaran yang meragukan Alkitab sebagai Firman Allah ( Jesus Seminar ) serta ditumbuhkannya pengaruh unsur-unsur budaya lokal didalam kekristenan , praktek-praktek perdukunan terselubung dengan berkedok agama kristen, dll.
Tayangan televisi dalam sekejap bisa menampilkan kejadian apapun yang nun jauh disana bahkan tempat yang tidak kita kenal sekalipun. Keterbukaan ini membawa konsekuensi tersendiri bagi gereja dewasa ini. Kejahatan ditayangkan dan dikomentari secara lugas dan terang-terangan.
Penyalah gunaan narkoba semakin merajarela, hidup mewah dan konsumtif dipamerkan secara terbuka, kegandrungan yang berlebihan pada berbagai jenis olah raga, aksi terorisme diperlihatkan secara detail, pergaulan bebas ditayangkan dari pagi hingga malam setiap hari.

Perkawinan campuran bukan suatu yang aneh lagi. Perkawinan antar suku ,antar agama yang berbeda banyak terjadi dan memberi goncangan tersendiri pula bagi warga gereja. Penyalah gunaan narkoba bahkan sudah merambah kedesa-desa, penyakit AID diderita oleh kaum muda diusia produktif, pengangguran terbuka maupun tersembunyi yang dialamai oleh anak muda terdidik, kriminalitas terjadi dimana-mana, bangkitnya animisme berselubung kebudayaan, dan lain sebagainya menuntut perhatian kita semua.

Disamping pengaruh negatif juga ditemui pengaruh positip seperti gaya liturgi dan ibadah yang dibawa oleh gereja – gereja aliran pantekosta / kharismatik yang hidup dan meriah, di iringi dengan peralatan musik lengkap dan nyanyian-nyanyian yang ringan dan meriah. Begitu pula pola ibadah dengan pujian dan penyembahan yang hidup dan gembira memberikan nuansa baru bagi suasana peribadatan yang dulunya terkesan monoton dan kaku kepada suasana yang meriah dan hidup. Siaran televisi juga menanyangkan hal hal positip seperti kebaktian kebangunan rohani dan pelayanan rohani oleh pendeta – pendeta yang dipakai oleh Tuhan dengan pengajaran yang membangun iman serta menampilkan mujizat dan kuasa Tuhan.

Penutup
Sebagai akhir dari tulisan ini saya ingin mengutip satu ayat dari Firman Tuhan yang terdapat dalam Kolose 3 : 17 ; Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan dan perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus,sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita. Amin -- Tuhan Yesus Memberkati.

Banjarbaru, Desember 2010.

Kamis, 02 Desember 2010

AKAR KEPAHITAN oleh : Bambang WA

Ibrani 12 : 15 “ Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang”.
Yang paling berat dalam hidup ini adalah hidup tanpa masalah, kita dekat dengan Allah-pun tidak berarti bahwa hidup kita tanpa masalah namun hidup dekat dengan Allah berarti menang dan bersuka cita ditengah masalah.
Supaya kita tidak hidup dalam kepahitan
1. Jangan melupakan nasehat Tuhan.
2. Jangan menganggap enteng ntentang didikan Tuhan.
3. Jangan putus asa bila diingatkan.
4. Tuhan Yesus akan membentuk atau mengajar/ mendidik orang-orang yang dikasihinya untuk merubah prilaku/ watak / karakter kita janji Tuhan dalam Wahyu 3 : 10 Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk bertekun menantikan Aku, maka Akupun melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk dicobai mereka yang diam dibumi. 11 Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu. Demikian juga firman Tuhan dalam Yermia 1 : 7 “Janganlah katakan : Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Ku-utus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan”. Bapa sudah memilih saudara dan saya sebagai orang-orang pilihan, hal ini sungguh luar biasa.
5. Tuhan Yesus akan menyerahkan dan mengajar terhadap orang-orang yang dikasihi dan diakui sebagai Anak-Nya .

Penyebab Kepahitan
1. Harapan-harapan yang tidak terpenuhi sebagaimana dalam Yakobus 4 : 2 “ Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh, kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa “.
2. Ketersinggungan yang tak terselesaikan menusuk sampai kehati baca dalam Matius 5 : 25 “ Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia ditengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan kedalam penjara ”.
3. Adanya kemarahan yang berkepanjangan.
4. Karena kegagalan dalam mengampuni.
5. Kegagalan dan kekecewaan hati karena diperlakukan tidak adil.
6. Karena hak-haknya diambil oleh orang lain atau saudara sendiri.
7. Bersekutu dengan orang-orang yang mengalami kepahitan, dan masih banyak lagi penyebabnya.

Saudara, engkau adalah orang yang berharga dimata Tuhan, Tuhan itu maha pengasih, Bapa itu maha pengapun karena Bapa lebih dahulu mengasihi kita.
Bagaimana cara menanggulangi apabila kepahitan itu sudah ada dalam kehidupan kita :
1. Ambil tindakan secepatnya, kita baca dalam 1 Korintus 13 : 4-5 “ Kasih itu sabar; kasih itu murah hati ; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5 Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain”.
2. Melakukan pertobatan dengan bersungguh-sungguh, 1 Yohanes 1 : 9 “ Jika kita mengaku dosa kita, maka ia adalah setia dan adil, sehingga ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”.
3. Kita bersedia mengampuni , sebagaimana dalam firman Tuhan yang terdapat di Efesus 4 : 31-32 “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang diantara kamu, demikian pula segala kejahatan. 32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni , sebagaimana Allah didalam Kristus telah mengampuni kamu “.
4. Mereconsiliasikan kepahitan yang artinya menjalin hubungan yang lebih sehat antara manusia dengan manusia oleh sebab dan akibat yang menjadikan akar kepahitan dan kepada Bapa melalui anaknya Yesus Kristus sehingga terjalin hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan Yesus.
5. Punya sikap positif thinking rohani sebagaimana firman Tuhan yang terdapat dalam 2 Korintus 12 : 9-10 demikian firmanya 9. Tetapi jawab Tuhan kepadaku “ Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna”. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10 Karena itu aku senang dan rela didalam kelemahan, didalam siksaan, didalam kesukaran, didalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
6. Pakai kuasa Allah untuk menjaga keutuhan keluarga kita, rumah kita, pekerjaan kita agar apa yang kita kerjakan atau kita perbuat berkenan dihadapan Allah sehingg semua yang kita kerjaklan diberkati dan berhasil.
7. Jangan bersekutu dengan kepahitan artinya kita tidak diperkenankan kumpul-kumpul sesame manusia yang mengalami kepahitan sehingga saling curhat atas masing-masing pengalaman kepahitan sehingga akan mengakibatkan kepahitan yang lebih hebat lagi.
8. Kita harus menjaga Hati dalam Amsal 4 : 23 “ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
9. Kamu juga harus sabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat! Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri diambang pintu. Yakobus 5 : 8-9 Amin.
Tuhan memberkati.

Senin, 15 November 2010

LIKA LIKU STUDY BANDING

Seorang teman mantan pegawai negeri sipil didaerah, bercerita pernah merasakan keinginan yang kuat untuk bisa ikut dalam sebuah study banding yang dilaksanakan oleh instansi tempat nya bertugas atau instansi dimana ia memiliki hubungan kerja. Keinginan yang begitu kuat itu bukan karena ingin memperoleh tambahan pengetahuan untuk diterapkan dalam tugas nantinya, tetapi lebih disebabkan oleh keinginan untuk melihat negeri orang dan menikmati fasilitas yang belum pernah dinikmatinya seperti naik pesawat terbang, menginap dihotel berbintang, minum dikafe atau makan direstoran mewah dan hiburan – hiburan yang belum pernah dirasakannya.
Hasrat besar PNS itu juga rupanya ada didalam diri anggota Dewan Perwakilan Rakyat baik pusat maupun daerah yang sebenarnya adalah orang-orang yang telah memiliki tingkat hidup diatas rata rata PNS dan rakyat kebanyakan. Namun gejolak untuk bisa jalan jalan keluar daerah atau keluar negeri cukup besar karena inilah kesempatan baik yang harus dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Siapa yang bisa menjamin kalau dalam pemilihan mendatang bisa duduk lagi dikursi nan empuk itu. Jadi mumpung ada kesempatan, maka baiklah waktu yang ada ini digunakan untuk berpiknik ria dinegeri seberang yang mungkin tidak ada lagi kesempatan dimasa datang.
Penyakit study banding yang menghinggapi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD ) dibungkus alasan formal ingin menggali pengalaman Pemda lain dalam mengelola sesuatu objek misalnya pengelolaan perparkiran, taman kota, kebersihan kota, pasar rakyat,atau pariwisata dan banyak objek lainnya, maka disusunlah sebuah rencana study banding misalnya ke Jogja atau Bali atau Bandung, Jakarta,Manado,Medan,Padang,Balikpapan dan sebagainya. Yang menjadi tanda tanya kenapa objek study banding anggota DPRD atau pun aparat Pemda lebih suka memilih jogja, bali,Jakarta,bandung untuk study banding. Apakah memang kota atau Pemda setempat memang memiliki kelebihan yang patut jadi acuan ? Jawaban sementara adalah karena kota kota itu mempunyai daya tarik tersendiri. Misal Bali karena terkenal dengan objek wisatanya . Jakarta atau Bandung dipilih karena kedua tempat itu sesak dengan tempat hiburan pemuas mata dan telinga atau yang lainnya. Pendek kata study banding adalah alasan yang tepat untuk melihat dan sekaligus menikmati apapun yang bisa dengan gratis karena dibekali oleh Negara atau Daerah. Begitu pula dengan anggota DPR pusat, study banding keluar negeri tentu memilih kota atau Negara – Negara yang hebat walaupun tidak sesuai dengan objek study banding.
Itulah sebabnya jika tugas pokok sudah dapat dilaksanakan misalnya pertemuan singkat dengan Pemda atau Instansi terkait dengan objek study banding yang mungkin sekitar 2 – 3 jam pertemuan, maka bak panah lepas dari busurnya. Masing masing personil mulai mencari informasi tempat mana yang layak untuk dikunjungi, baik sendiri sendiri maupun berkelompok dua tiga orang yang sama seleranya. Tidak heran ketika kembali kehotel dengan segera jemputan taksi menempati posisi di halaman hotel dan kemudian membawa anggota study banding kemanapun mereka kehendaki.
Bagaimana nasibnya dengan materi study banding? Ah itu mudah saja, minta brosur dan peraturan yang ada atau buku buku yang kebetulan sudah diterbitkan oleh instansi tertentu dan serahkan kepada ketua tim untuk dibawa pulang. Nanti untuk pembuatan laporan sudah ada formatnya, tinggal isi sesuai dengan kebutuhan oleh stap yang kebetulan juga ikut study banding. Tentunya stap akan sangat senang jika dibawa study banding karena ia juga punya selera yang mirip atau sudah dibentuk seleranya sama dengan para anggota dewan tersebut.
Laporan tinggal laporan, bisa diarsipkan dengan baik, foto foto dokumentasi pertemuan sejenak itupun diarsipkan dengan baik yang isinya sudah bisa diduga, yaitu foto sambutan ketua tim / rombongan, sambutan tuan rumah, penyerahan cindera mata dan satu dua foto pembicara saat diskusi / pertemuan dilaksanakan.
Apakah hasil study banding bisa diterapkan ? sebenarnya ada yang bisa tetapi banyak yang tidak bisa karena memang situasi dan kondisi, berbeda baik social, fisik,ekonomi dan budaya atau sumberdaya lainnya. Akhirnya study banding tinggal study banding, dan ada kemungkinan study banding yang sama (misalnya perparkiran ) dengan tempat yang sama akan dilakukan lagi oleh komisi atau fraksi lain di Dewan tersebut, Cuma dibedakan dalam stressing atau titik perhatiannya. Kalau fraksi yang satu dari sudut pendapatan untuk mengisi kas daerah tetapi fraksi yang satunya mengenai pertisipasi swasta dalam pengelolaan perparkiran. Untuk objek yang tumpang tindih ini, tidak ada yang terlalu peduli karena yang penting bukan tujuannya tetapi efek sampingnya.
Lalu bagaimana dengan anggaran, apakah daerah atau pemerintah meyediakan dana untuk memenuhi semua kebutuhan perjalanan study banding ini ? Secara normative sudah terpenuhi, misalnya tiket pesawat pp, taksi airport – ke kota pp, biaya penginapan hotel, uang harian atau lumpsum. Tapi itukan jumlahnya tidak seberapa, sedangkan untuk biaya hiburan tidak tersedia. Lalu bagaimana menyikapinya? Yang paling sederhana adalah mengajak partner setiap komisi atau fraksi untuk ikut study banding. Setiap partner yaitu instansi pemerintah, swasta atau BUMN/D diminta partisipasi untuk membantu keberangkatan rombongan sudy banding. Jumlahnya bisa dirundingkan sesuai situasi dan kondisi instansi yang bersangkutan. Untuk partner kerja, bisa ikut dalam study banding atau bisa juga tidak ikut, tergantung pimpinan masing masing.
Begitulah ceritanya, sehingga tidak heran ditengah tengah masyarakat terdengar kencang suara suara menentang study banding yang dilakukan oleh anggota dewan, baik pusat maupun daerah karena memang lebih banyak sia sia daripada hasil yang diperoleh. Hasil disini dalam pengertian untuk meningkatkan kemakmurann rakyat,bukan kemakmuran anggota dewan.
Akhirnya semua terpulang kepada hati nurani para pemimpin kita, apakah mereka masih memilikinya atau sudah menutupnya sehingga tidak ada rasa lagi walaupun ditusuk dengan bambu runcing sekalipun. Ya itu lah Indonesiaku saat ini.

Sabtu, 13 November 2010

JANDA YANG GIGIH, HAKIM YANG TIDAK BENAR

Pembacaan : Lukas 18 : 1 – 8
Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: "Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku." Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

Pertanyaan :
1. Siapakah sesungguhnya janda yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini ?
2. Mengapa janda ini perlu bersikap gigih atau tidak berputus asa ?
3. Apa makna rohaninya ?

Pembahasan
Hidup kita didunia ini tidak ubahnya seperti seorang janda yang penuh dengan segala kesusahan. Terkadang kita tidak mampu menyelesaikan sendiri persoalan hidup ini dan saking beratnya bisa membuat kita putus asa.

Janda ini melambangkan kehidupan orang percaya yang harus setia dan tekun dalam berdoa kepada Bapa diSurga. Ketekunan dan kesetiaan dan kesungguhan sangat dituntut oleh Tuhan untuk mengetahui sebesar apa ketergantungan kita kepada Tuhan.Karena justru dalam kelemahan kitalah maka kekuatan Allah menjadi nyata. Seringkali kita dalam berdoa hanya sekadarnya saja, sepintas lalu, giat sebentar kemudian bosan.
Teladanilah sikap janda ini yang walaupun tahu hakim didunia ini bisa bertindak sewenang-wenang tetapi karena kegigihannya akhirnya perkaranya dimenangkan oleh hakim tersebut. Apatah lagi Bapa kita yang diSurga, Allah yang Maha mengasihi pastilah akan mendengar dan menjawab segala seru doa kita, asalkan sesuai dengan kehendakNya.

Kesimpulan
Lukas 7:7 - 8
"Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Kamis, 11 November 2010

POHON MENJADI TERKENAL KARENA BUAHNYA

Tetapi jika harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (Filipi 1 :22)

1. Firman Tuhan sekilas nampak sederhana tetapi kalau konsekwen dilakukan maka Firman Tuhan itu akan menjadikan seseorang bertumbuh dalam iman.
Pertumbuhan disini diukur oleh buah yang dihasilkan , Buah dimaksud adalah Buah-buah Roh Demikian firman Tuhan “ Tetapi buah Roh ialah Kasih, Sukacita, Damai sejahtera, Kesabaran, Kebaikan, Kesetiaan, Kelemah lembutan, Penguasaan diri Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. “ (Galatia 5 : 22-23)

1) K A S I H adalah Kekuatan dari Tuhan untuk :
a. Memahami dan mengenal Tuhan dengan segala keberadaanya yaitu Kekudusan, Keadilan, Kemurahan, cara kerja, kecemburuan dan lain-lain.
b. Menerima keberadaan orang lain apa adanya apakan keadaanya kaya, miskin, sopan, jahat dan lain-lain, tanpa ada rasa iri, cemburu, rasa kawatir atau rasa was-was, seperti menerima diri kita sendiri.

2) SUKA CITA adalah Kekuatan dari Tuhan untuk menyingkirkan rasa ketakutan, Kecemasan, keragu-raguan, rasa Keputus asaan dan menolong melintasi penderitaan, penganiayaan dengan kemenangan.

3) DAMAI SEJAHTERA adalah kekuatan dari Tuhan untuk merasa Tenang ketika berada dalam Badai kehidupan, Ia tidak digoyahan oleh rasa Ketakutan, Kecemasan, Keragu-raguan dan Percaya 100 % pada Firman Tuhan.

4) KESABARAN adalah kekuatan dari Tuhan untuk tidak “ Menyerah “ dalam menanggung segala kesukaran Hidup.

5) KEMURAHAN adalah kekuatan dari Tuhan untuk rela membantu, menolong tanpa memandang rupa atau pandang bulu orang lain yang mengalami kesulitan atau kesusahan tanpa motivasi imbalan.

6) KEBAIKAN adalah kekuatan dari Tuhan untuk melakukan apa yang benar menurut Firman Tuhan.

7) KESETIAAN adalah kekuatan dari Tuhan untuk memikul tanggung jawab dalam perkara yang Tuhan berikan.

8) KELEMAH LEMBUTAN adalah kekuatan dari Tuhan untuk Rela diperlakukan tidak adil dengan tidak membalas atau berlaku kasar, karena perlakukan tersebut sebagai sarana untuk membentuk Karakter Kristus.

9) PENGUASAAN DIRI adalah kekuatan dari Tuhan untuk Tidak semaunya menuruti kehendaknya sendiri, mendisiplinkan Jiwa yaitu Kemauan, Emosi, Intelektual, Imajinasi, memory.
Dan mengendalikan Tubuh yaitu Nafsu sex, Naluri soal makanan dan minuman, kesenangan Panca Indra . semua kita lakukan agar berkenan dihati Nya Tuhan.

Dalam hal kita sering menemukan kenyataan bahwa banyak orang Kristen yang tidak berbuah, bahkan tidak bertumbuh dalam kebenaran. Untuk mengenali pertumbuhan Rohani yang di tandai dengan buah-buah roh perlu pemahaman Firman Tuhan dengan kepekaan illahi di dalam 2Petrus 1 : 3-8 demikian “3. Karena kuasa Illahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia , yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. 4. Dengan jala itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat illahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. 5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menanmbahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan kesalehan, 7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. 8 Sebab apabila semua itu ada padamu dengan berlimpah limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita

2. “ Kita tidak bisa mengukur kedewasaan orang lain, sebab hanya Allah yang dapat mengukurnya “

Pertumbuhan Rohani yang ditandai dengan buah-buah roh membuat seseorang memberkati dan bisa menjadi naungan bagi orang lain, ini yang dimaksudkan Tuhan.
Kita harus mengerti bahwa Kedewasaan Rohani bukan semata untuk kesenangan dan kepuasan, tetapi agar orang disekitar kita memperoleh berkat dari buah-buah Roh yang dihasilkan.
Allah itu tangannya Perkasa dan Kuat, Ia hendak memberkati banyak orang, untuk itu Allah mencari orang yang dapat menampung Keperkasaan TanganNya menaungi umatNya. Hanya orang-orang yang telah menghasilakan buah roh yang dapat menghasilkan saranaNya.

Seseorang yang mengerti Firman Tuhan, adalah menghayati dan melakukannya akan menjadi Pribadi yang memancarkan Diri Allah, yaitu Pribadi Allah dan Kehendaknya, yang didalamnya termasuk kekuatan dan kekuasaan-Nya yaitu karunia-karunia Roh yang disiapkan melalui penaburan Firman yang membuat berbuah lebat.

Semakin banyak berbuah semakin besar kepercayaan Tuhan yang diberikan, hanya bila Allah memanifestasikan diri kepada seseorang, orang tersebut dimampukan untuk manjadi naungan bagi orang lain kita lihat dalam 2 Korintus 3 : 8 demikian firman Tuhan “ Betapa lebih besarnya lagi kemuliaan yang menyertai pelayanan Roh ! dan (Matius 5 : 45-48 ) Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapa yang disorga adalah sempurna.

Rasul Paulus mengajarkan agar kita senantiasa hidup oleh Roh dan tidak menuruti keinginan daging seperti firman Tuhan yang tertulis dalam Galatia 5 : 16-26 dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. 17 sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. 18 Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, 19 dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani . Bernyanyilah dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. 20 Ucaplah Syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita 21 dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain didalam takut akan Kristus.22 Hai Isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 karena itu sebagai jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskanya, sesudah Ia menyucikanya dengan memandikannya dengan air dan firman.

Ukuran manusia bukanlah seberapa besar Imanya, tetapi seberapa besar Kasihnya.
Demikianlah tinggal ketiga hal ini dalam kehidupan kita yaitu iman, pengharapan dan kasih dan yang paling besar di antaranya ialah KASIH . ( 1 Korintus 13 : 13 )

Yang membuat terkenal pohonnya adalah karena kwalitas buahnya dan yang membuat pohon tetap dirawat dan dijaga oleh pemiliknya adalah karena pohonnya berbuah lebat. Amin


Oleh : Bambang. WA

Sabtu, 06 November 2010

POHON ARA YANG TIDAK BERBUAH

Pembacaan Lukas 13 : 6 - 9
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini: "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Pertanyaan :
1. Apa atau Siapa yang dimaksud dengan kebun Anggur
2. Siapa pemilik kebun anggur ?
3. Apa tujuan perumpamaan ini ?

Pembahasan
Umat Israel adalah umat pilihan Allah. Umat ini selalu dilambangkan dengan Kebun Anggur Tuhan oleh Alkitab ( Yesaya 5 : 7 ). Jadi dalam perumpamaan ini Pohon ara dimaksudkan adalah orang Israel yang telah tinggal ditanah perjanjian atau tanah yang dijanjikan, tanah yang subur berlimpah susu dan madu sejak mereka keluar dari perbudakan Mesir.

Kenyataannya memang pohon ara tumbuh dengan baik ditanah palestina,apakah itu ditanam tersendiri maupun ditanam didalam kebun anggur. Pohon ara yang tumbuh ditanah palestina dari jenis sycomare, daunnya selalu hijau sepanjang tahun dan menghasilkan buah secara teratur pada musimnya.Kemungkinan pohon ara jenis inilah yang dipanjat oleh Zakeus ketika ia ingin melihat Tuhan Yesus yang lewat dalam perjalannya ke Yeriko. Ditanah Palestina kayu pohon ara digunakan untuk bahan bangunan dan buahnya menjadi makanan ( segar maupun kering ) disamping buah anggur yang menjadi buah utama.

Allah Bapa sebagai pemilik kebun anggur datang dalam nama Tuhan Yesus untuk mencari buah diantara umat Israel. Namun Ia tidak mendapatinya. Yang ada hanya daunnya yang rimbun, hijau tanpa buah. Keadaan ini membuat pemilik kebun menjadi kesal bahkan murka.

Memang pada kenyataannya pada saat itu umat Israel hidup rohaninya kelihatan baik. Penampilan secara lahiriah sangat meyakinkan namun kering. Tuhan Yesus mengatakan bahwa mereka seperti kuburan yang diluarnya dicat putih tetapi didalamnya busuk. Begitulah kondisi kerohanian Israel saat itu. Mereka hanya beragama,tampil bangga dengan atribut keagamaan yang semarak, bangga karena mereka keturunan Abraham dan sebagainya. Penampilan lahiriah yang semarak inilah yang dikecam oleh Tuhan Yesus bak pohon ara yang tumbuh subur daunya tetapi tidak menghasilkan buah. Kehidupan keagamaan yang angkuh dan tanpa pertobatan.

Jelas bahwa Tuhan Allah merindukan umatNya menghasilkan buah buah rohani yang berkenan kepadaNya. Bukan tampilan ritual keagamaan yang rumit terkesan saleh dan kudus.

Dalam hal ini Tuhan tetap memberikan kesempatan kepada umat ini untuk bertobat( ayat 7,8,9 ), Ia datang langsung melawat umatNya, tetapi nyatanya mereka menolaknya dan tidak ada perubahan.

Kesimpulan
Perumpamaan ini ingin menggambarkan kepada kita tentang kesabaran Tuhan pun ada batasnya. Bahwa Tuhan tidak selamanya menunggu orang-orang yang tidak percaya untuk mengambil keputusan bertobat. Inilah gambaran tentang kekekalan. Jika Tuhan telah memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk bertobat namun tidak juga mau mengambil keputusan maka dengan terpaksa harus menerima hukuman ( pohon ditebang ayat 9).

ORANG ORANG UPAHAN DI KEBUN ANGGUR

Pembacaan Matius 20 : 1 – 16
1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan mereka pun pergi.5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.6. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga.11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Pertanyaan
1. Siapakah yg dimaksud tuan pemilik kebun anggur ?
2. Siapakah yg dimaksud dengan pekerja-pekerja ?
3. Apa yg dimaksud dengan kebun anggur
4. Apa yang dimaksud dengan malam hari saat membayar upah ?
5. Mengapa upah yang diterima sama besarnya walaupun jam kerja berbeda ?
6. Apa makna rohaninya
Pembahasan
Perumpamaan ini menceritakan tentang seorang tuan yang pagi-pagi mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia menemukan pekerja-pekerja, mereka sepakat dengan upah sedinar sehari. Pukul sembilan pagi, sang tuan menemukan orang-orang yang menganggur yang lain, lalu sang tuan menyuruh mereka bekerja di kebunnya dengan upah yang sang tuan anggap pantas. Kira-kira pukul dua belas dan tiga petang dan lima petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.
Malam harinya, ketika para pekerja hendak pulang, sang tuan membayar masing-masing dari mereka satu dinar. Para pekerja yang datang lebih pagi bersungut-sungut kepada tuannya, karena mereka mengira akan mendapat lebih banyak uang. Tetapi tuan tersebut menjawab bahwa ia bebas mempergunakan miliknya, termasuk menunjukkan kemurahan hatinya untuk orang yang masuk terakhir, dan ia mengingatkan mereka untuk tidak iri hati.
Tuan di dalam perumpamaan tersebut melambangkan Allah yang menjadi pemilik dan penguasa atas dunia ini yang digambarkan sebagai kebun anggur. Dalam Perjanjian lama kebun anggur dilambangkan sebagai umat Tuhan yaitu bangsa Israel. Sedangkan hamba atau pekerja , dan hamba-hambanya adalah manusia yang berdosa. Allah memanggil dan menyelamatkan manusia dari dosa (kepengangguran) atas inisiatif Allah sendiri disepanjang masa sejak manusia jatuh kedalam dosa. Allah telah berinisiatif untuk menyelamatkan manusia agar tidak jatuh kedalam penghukuman kekal. Waktu yang digambarkan sebagai jam sembilan pagi, jam dua belas siang dan jam tiga petang bahkan sampai jam lima petang memberi gambaran bahwa panggilan Allahpun terjadi menjelang dunia ini kiamat. Para pekerja dapat diartikan sebagai :
1. Manusia yang dipanggil untuk menjadi orang percaya tanpa memandang usia dan tanpa memandang waktu semuanya dipanggil untuk mendapat keselamatan.
2. Mereka adalah orang orang yang dipanggil untuk menjadi pelayan, hamba2 Tuhan, para Nabi dan Rasul – rasulnya yang dipanggil dan diutus dari segala zaman bahkan sampai saat ini dan waktu yang akan datang.
Waktu yang semakin sore menunjuk pada usia manusia maupun usia dunia ini. Pada waktunya nanti ( sore / malam ) yaitu ketika akhir zaman Allah akan mengumpulkan segenap orang percaya termasuk Hamba hamba Tuhan untuk menerima upah atas pekerjaannya selama di dunia ini. Upah yang diterima sama besarnya menunjukan bahwa upah bukan didasarkan pada lamanya menjadi orang kristen atau menjadi hamba Tuhan atau duluan waktu bekerja tetapi berdasar atas anugerah dan kasih karunia Tuhan. Tidak ada seorangpun yang bisa menuntut lebih, apalagi jika hanya didasarkan atas rentang waktu jadi orang Kristen atau jadi Hamba Tuhan. Disini Tuhan Yesus mau memberi peringatan pada murid muridnya agar tidak memiliki perasaan iri dan dengki, karena keselamatan adalah anugerah, bukan imbalan dari perbuatan dan lamanya kita menjadi orang kristen.
Makna Rohani
Panggilan Allah sama sekali tidak berhubungan dengan usaha manusia maupun sebaliknya ketiadaan usaha manusia melainkan semata-mata atas Kasih Karunia dan AnugerahNya.
Di akhir pengajarannya Yesus menasihatkan: Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terkemudian akan menjadi yang terdahulu.
Amin, Tuhan Yesus memberkati.